MODUL HADITS ARBA'IN & TERJEMAHAN KELAS VII,VIII,&IX MTs
الحــديث الأول
HADITS
PERTAMA
الأعمال بالنيات
عَنْ
أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا
اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ
هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ،
وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا
فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
[رواه
إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة
البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما
اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Kosa kata:
|
الأعمال
ج العمل:
Perbuatan
|
امرء :
Seseorang
|
|
نوى
: (Dia) niatkan
|
امرأة
:Seorang wanita
|
Arti Hadits:
Dari
Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata,
"Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya
setiap perbuatan[1])tergantung
niatnya[2]).
Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.
Siapa yang hijrahnya[3])
karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya
kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena
menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin
dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat
dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah
bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al
Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang
paling shahih yang pernah dikarang).
Catatan:
1.
Hadits ini merupakan salah satu
dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’i
berkata: Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah
bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan,
sedangkan niat merupakan salah satu bagian dari ketiga unsur tersebut. Diriwayatkan
dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata," Hadits ini mencakup tujuh puluh bab
dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata," Hadits ini merupakan
sepertiga Islam.
2.
Sebab dituturkannya hadits ini, yaitu: ada
seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi
seorang wanita yang konon bernama: “Ummu Qais” bukan untuk meraih pahala
berhijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi
Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).
Kandungan
Hadist:
1.
Niat merupakan syarat
layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan
menghasilkankan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
2.
Waktu pelaksanaan niat
dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
3.
Ikhlas dan membebaskan niat
semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.
4.
Seorang mu’min akan diberi
ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
5.
Semua perbuatan yang bermanfaat
dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhaan Allah maka
dia akan bernilai ibadah.
6.
\Yang membedakan
antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
7.
Hadits di atas menunjukkan
bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan
iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati,
diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Niat dan
keikhlasan :7 : 29
2. Hijrah : 4 : 97, 2 : 218, 3
: 195, 8 : 72
3. Fitnah dunia
: 3 : 145, 4 : 134, 6 : 70, 8 : 67
الحـديث الثاني
HADITS
KEDUA
مراتب الدين
عَنْ
عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ
عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ
يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ
إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى
رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد
أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ
وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ
الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا
لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ :
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي
عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ
تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ:
مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ
أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ
الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ
انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ
السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ
أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ . [رواه مسلم]
Kosa
kata :
:طلعTerbit
/ datang
أسند:Menyandarkan
كفَّيه مثنى كف:Kedua telapak tangan
:فخذيه مثنى فخذ
Kedua pahanya انطلق:
Berangkat / Bertolak
ركبتيه مثنى ركبة:
Kedua lututnya أثر:
Bekas
الحُفاة ج الحافي:
Telanjang kaki
أمارات ج أمارة:
Tanda-tanda
العراة ج العاري:
Telanjang
:رعاء ج راعيPenggembala
:يتطاولون
Saling meninggikan
Arti
hadits :
Dari Umar radhiyallahu `anhu juga dia berkata :
Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang
laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam,
tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di
antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu
menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah shallahu`alaihi
wa sallam) seraya berkata, “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam
?”, Maka bersabdalah Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam: “ Islam adalah
engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan
bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan
zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata, “
anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang
membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukanaku tentang Iman
“. Lalu beliau bersabda, “ Engkau beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan
engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudia dia
berkata, “ anda benar“. Kemudian
dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau
bersabda, “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau
melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” .
Kemudian dia berkata, “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan
kejadiannya)”. Beliau bersabda,“ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang
bertanya ". Dia berkata,“ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya
“, beliau bersabda, “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau
melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba,
(kemudian) berlomba-lomba meninggikan
bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar.
Kemudian beliau (Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam) bertanya,“Tahukah
engkau siapa yang bertanya ?”. Aku berkata,“ Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui “. Beliau bersabda,“Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian
(bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)
Catatan:
· Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya,
karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan
Ihsan.
·
Hadits ini
mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang
terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril)
dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam )
Kandungan Hadist :
1.
Disunnahkan untuk memperhatikan
kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama,
orang-orang mulia dan penguasa.
2.
Siapa yang menghadiri majlis
ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu
masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya
tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat
mengambil manfaat darinya.
3.
Jika seseorang yang ditanya
tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata, “Saya tidak tahu“,
dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.
4.
Kemungkinan malaikat tampil
dalam wujud manusia.
5.
Termasuk tanda hari kiamat
adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak
memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan
hamba-sahayanya.
6.
Tidak disukainya mendirikan
bangunan yang tinggi dan membaguskannya selama tidak dibutuhkan.
7.
Di dalamnya terdapat dalil
bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
8.
Di dalamnya terdapat keterangan
tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Iman :2 :
285, 5 : 5, 6 : 82 dll.
2. Islam: 2 :
112, 4 : 125, 72 : 14, 40 : 66, 3 : 19, 5 :
3
3. Ihsan : 18 : 30 , 28 : 77, 17 : 7, 5 :
93
4. Hari akhir : 7 : 187, 22 : 7, 31
: 34 .
5.
Ilmu ghaib hanya Allah yang mengetahui: 2 : 3, 27:65, 6
: 50 , 7 : 188
6. Belajar & mengajarkan Islam :16:43 , 21:7, 3:79, 9:122
الحـديث الثالث
HADITS KETIGA
أركان الإسلام
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ
اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ
رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ
عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً
رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ
وَصَوْمُ رَمَضَانَ.[رواه
الترمذي ومسلم ]
Kosa kata :
سمعتُ : (saya) mendengar بُنِيَ (بَنَى) : Dibangun
Terjemah hadits :
Dari
Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Alh Khottob radiallahuanhuma dia
berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam bersabda: Islam dibangun di atas lima perkara; Bersaksi bahwa
tiada ilah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan
shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim).
Kandungan Hadist :
1.
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam menyamakan Islam dengan bangunan yang
kokoh dan tegak di atas tiang-tiang yang kuat.
2.
Pernyataan tentang keesaan
Allah dan keberadaan-Nya, membenarkan kenabian Muhammad shallallahu`alaihi wa sallam ,
merupakan hal yang paling mendasar dibanding rukun-rukun yang lainnya.
3.
Selalu menegakkan shalat dan
menunaikannya secara sempurna dengan syarat rukunnya, adab-adabnya dan
sunnah-sunnahnya agar dapat memberikan buahnya dalam diri seorang muslim yaitu
meninggalkan perbuatan keji dan munkar karena shalat mencegah seseorang dari
perbuatan keji dan munkar.
4.
Wajib mengeluarkan zakat dari
harta orang kaya yang sudah terpenuhi syarat-syarat zakat lalu memberikannya
kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.
5.
Wajibnya menunaikan ibadah haji
dan puasa (Ramadhan) bagi setiap muslim.
6.
Adanya keterkaitan rukun Islam
satu sama lain. Siapa yang mengingkarinya maka dia bukan seorang muslim
berdasarkan ijma’.
7.
Nash di atas menunjukkan bahwa
rukun Islam ada lima, dan masih banyak lagi perkara lain yang penting dalam
Islam yang tidak ditunjukkan dalam hadits ini. Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:
الإِيْمَانُ
بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً
“ Iman itu memiliki tujuh puluh lebih
cabang “
8.
Islam adalah aqidah dan amal
perbuatan. Tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman
tanpa amal.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Wala’ dan Bara’
dalam syahadatain: 2 : 256, 16
: 36
2. Shalat : 2 : 3, 19 : 31 , 20 : 132,
3. Zakat : 9 : 71, 19 : 55 , 73 : 20
4. Haji : 3 : 97, 2 : 196, 22 : 27
5. Puasa : 2 : 183, 2 : 185.
الحـديث الرابـع
HADITS
KEEMPAT
مراحل الخلق
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ
اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى
الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ
خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ
عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ
مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ
الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ
وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ
بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ
بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ
أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ
فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. [رواه البخاري ومسلم].
Kosa
kata :
|
حدثنا
: menyampaikan
(kpd kami)
|
خَلْقه : Penciptaan(nya)
|
|
بطن:
Perut
|
نطفة : Setetes mani
|
|
علقة
: Setetes darah
|
مضغة : Segumpal daging
|
|
المَلَكَ
: Bentuk tunggal
dari ملائكة
|
يَنْفُخُ
:
Meniup
|
|
أجله:
Kematian (nya)
|
شقيٌّ : Celaka
|
|
سعيد:
Bahagia
|
ذراع : Hasta (jarak antara
|
|
يسبق
: Mendahului
|
telapak tangan dan siku)
|
Terjemah Hadits :
Dari
Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu
beliau berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam menyampaikan kepada kami
dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan: Sesungguhnya setiap
kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama
empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh
hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus
kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan
untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan
celaka atau bahagianya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya
di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara
dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya
ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam
neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka
hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah
ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga maka masuklah
dia ke dalam syurga. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Kandungan Hadist :
1.
Allah ta’ala mengetahui tentang
keadaan makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami,
termasuk masalah bahagia dan celaka.
2.
Tidak mungkin bagi manusia di
dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk syurga atau neraka, akan tetapi
amal perbuatan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.
3.
Amal perbuatan dinilai di
akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini,
justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang
baik (husnul khotimah).
4.
Disunnahkan bersumpah untuk
mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.
5.
Tenang dalam masalah rizki dan
qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu
mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hati karenanya.
6.
Kehidupan ada di Tangan Allah.
Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.
7.
Sebagian ulama dan orang bijak
berkata bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara
berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena
sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Pengorbanan seorang ibu yang
mengandung : 31 : 14
2.
Teori reproduksi manusia : 22 : 5, 23 : 14
3.
Takdir : 57
: 22, 64 : 11
4.
Husnul khotimah : 2 : 132, 4 : 18
الحـديث الخامس
HADITS
KELIMA
النهي عن الإبتداع في الدين
عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم
: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.[رواه البخاري ومسلم وفي رواية
لمسلم : مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]
Kosa kata :
|
أحدث : Mengada-ada
|
ردٌّ : Tertolak
|
Terjemah hadits:
Dari
Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata: Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:Siapa yang mengada-ada dalam
urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya[4]),
maka dia tertolak. (Riwayat Bukhari dan Muslim), dalam riwayat Muslim
disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan
(agama) kami, maka dia tertolak).
Kandungan Hadist :
1.
Setiap perbuatan ibadah yang
tidak bersandar pada dalil syar’i ditolak dari pelakunya.
2.
Larangan dari perbuatan bid’ah
yang buruk berdasarkan syari’at.
3.
Islam adalah agama yang
berdasarkan ittiba’ (mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida’
(mengada-adakan sesuatu tanpa dalil) dan Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam telah berusaha menjaganya dari sikap
yang berlebih-lebihan dan mengada-ada.
4.
Agama Islam adalah agama yang
sempurna tidak ada kurangnya.
Tema-tema hadits yang berkaitan
dengan ayat Al-Qur’an:
1. Kesempurnaan
Islam : 5 : 3.
2. Bid’ah dan taklid : 57 : 27, 17 : 36
الحــديث السادس
HADITS KEENAM
البعد عن مواطن الشبهات
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ
بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ
بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ
النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ
فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ
فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ
فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ
حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ
كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ [رواه البخاري ومسلم]
Kosa
kata :
|
بَيِّنٌ
: Jelas
|
فسد(ت)
: Rusak
|
|
مشتبهات:
Samar/syubhat
|
أمور (أمر):
Perkara-perkara
|
|
اسْتَبْرَأ
: Membebaskan
|
اتقى:
Menghindar
|
|
وقع:
Terjerumus, melakukan
|
عِرْضه:
Kehormatan (nya)
|
|
يرعى
: Menggembala
|
الراعي:
Penggembala,
Pemimpin
|
|
يوشك
: Hampir, nyaris
|
الحمى
: Batas,
pematang.
|
|
مضغة
: Segumpal daging
|
صلح(ت):
Baik, layak
|
Terjemah hadits :
Dari
Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata, Saya
mendengar Rasulullahshallallahu`alaihi wa
sallam bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram
itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat
(samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut
terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya.
Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam
perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan
gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat
laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan
larangan Allah adalah apa yang Dia
haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia
baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh
tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Catatan:
·
Hadits ini merupakan salah satu landasan pokok dalam
syari’at. Abu Daud berkata: Islam itu berkisar pada empat hadits, kemudian dia
menyebutkan hadits ini salah satunya.
Kandungan Hadist :
1.
Termasuk sikap wara’[5])
adalah meninggalkan syubhat.
2.
Banyak melakukan syubhat akan
mengantarkan seseorang kepada perbuatan haram.
3.
Menjauhkan perbuatan dosa kecil
karena hal tersebut dapat menyeret seseorang kepada perbuatan dosa besar.
4.
Memberikan perhatian terhadap
masalah hati, karena padanya terdapat kebaikan fisik.
5.
Baiknya amal perbuatan anggota
badan merupakan pertanda baiknya hati.
6.
Pertanda ketakwaan seseorang
jika dia meninggalkan perkara-perkara yang diperbolehkan karena khawatir akan
terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan.
7.
Menutup pintu terhadap
peluang-peluang perbuatan haram serta haramnya sarana dan cara kearah sana.
8.
Hati-hati dalam masalah agama
dan kehormatan serta tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat
mendatangkan persangkaan buruk.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Penetapan halal
dan haram :2
: 275, 16 : 115, 5 : 87
2. Menghindari
syubhat : 49 : 12
3. Kedudukan hati : 26 : 89, 16 : 106, 22 : 46
4. Allah Maha Berkuasa (Raja):5 : 40 , 114 : 2
الحــديث السابع
HADITS KETUJUH
النصيحة عماد الدين
عَنْ
أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ
وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ . [رواه البخاري
ومسلم]
Dari
Abu Ruqoyah Tamim Ad Daari radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Agama adalah nasehat[6])[7]),
kami berkata: Kepada siapa? Beliau
bersabda: Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin
dan rakyatnya[8]).
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kandungan Hadits:
1.
Agama Islam berdiri tegak di
atas upaya saling menasihati, maka harus selalu saling menasihati di antara
masing-masing individu muslim.
2.
Nasihat wajib dilakukan sesuai
kemampuan.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Da’wah dan Amar Ma’ruf Nahi
munkar : 3 :
104, 3: 110, 41 : 33
2.
Pentingnya selalu upaya untuk
saling mengingatkan: 51 : 55, 87
: 9.
الحـديث الثـامن
HADITS KEDELAPAN
حرمة دم المسلم وماله
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ
حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ
اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ
عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ
وَأَمْوَالَـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ[رواه البخاري ومسلم ]
Kosa kata :
|
أُمِرْتُ : Aku diperintahkan
|
أُقَاتِل : (aku) Memerangi
|
|
دماء : Bentuk jamak
dari دم: darah
|
عصموا : Mereka terlindung
|
Terjemah
hadits :
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi
manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa
Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka
melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan
hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah ta’ala (Riwayat Bukhari dan
Muslim)
Catatan:
·
Hadits
ini secara praktis dialami pada zaman kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq,
sejumlah rakyatnya ada yang kembali kafir. Maka Abu Bakar bertekad memerangi
mereka termasuk di antaranya mereka yang menolak membayar zakat. Maka Umar bin
Khottob menegurnya seraya berkata: “ Bagaimana kamu akan memerangi mereka yang
mengucapkan Laa Ilaaha Illallah sedangkan Rasulullah telah bersabda: Aku
diperintahkan…..(seperti hadits diatas)” . Maka berkatalah Abu Bakar:
“Sesungguhnya zakat adalah haknya harta“,[9]) hingga akhirnya Umar
menerima dan ikut bersamanya memerangi mereka.
Kandungan
Hadist :
1.
Maklumat peperangan
kepada mereka yang berlaku musyrik hingga mereka masuk Islam.
2.
Diperbolehkannya
membunuh orang yang mengingkari
shalat dan memerangi mereka yang menolak membayar zakat.
3.
Tidak diperbolehkan berlaku
sewenang-wenang terhadap harta dan darah kaum muslimin.
4.
Diperbolehkannya hukuman mati
bagi setiap muslim jika dia melakukan perbuatan yang menuntut dijatuhkannya
hukuman itu seperti: Berzina bagi orang yang sudah menikah (muhshan),
membunuh orang lain dengan sengaja dan meninggalkan agama dan jamaahnya.
5.
Dalam hadits ini terdapat
jawaban bagi kelompok murji’ah yang mengira bahwa iman tidak membutuhkan amal
perbuatan.
6.
Tidak mengkafirkan pelaku
bid’ah yang menyatakan keesaan Allah dan menjalankan syari’at-Nya.
7.
Di dalamnya terdapat dalil
bahwa diterimanya amal yang zhahir dan menghukumi berdasarkan sesuatu yang
zhahir sementara yang tersembunyi diserahkan kepada Allah.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Aqidah dan syariat harus
ditegakkan : 42 : 13,
2.
Perlindungan nyawa dan harta: 2:
188, 4: 93
3.
Besarnya kedudukan zakat : 9
: 34
الحــديث التـاسع
HADITS KESEMBILAN
النهي عن كثرة السؤال والتشدد
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ،
فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ
وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ .[رواه
البخاري ومسلم]
Kosa kata :
|
نـَهَيْتُكم:
(Aku) larang kalian
|
اجتنبوا:
Mereka menghindarinya
|
|
أَمَرْتُكُم:
(Aku) perintahkan kalian
|
أَهْلَكَ
: Menghancurkan
|
Terjemah hadits :
Dari
Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahuanhu dia berkata: Saya
mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Apa yang
aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka
hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang
sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka (yang tidak berguna)
dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka. (Bukhari dan Muslim)
Kandungan
Hadits:
1.
Wajibnya menghindari semua apa
yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam.
2.
Siapa yang tidak mampu
melakukan perbuatan yang diperintahkan secara keseluruhan dan dia hanya mampu
sebagiannya saja maka dia hendaknya melaksanakan apa yang dia mampu laksanakan.
3.
Allah tidak akan membebankan
kepada seseorang kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.
4.
Perkara yang mudah tidak gugur
karena perkara yang sulit.
5.
Menolak keburukan lebih
diutamakan dari mendatangkan kemaslahatan.
6.
Larangan untuk saling bertikai
dan anjuran untuk bersatu dan bersepakat.
7.
Wajib mengikuti Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam, ta’at dan menempuh jalan keselamtan dan kesuksesan.
8.
Al Hafiz berkata: Dalam hadits
ini terdapat isyarat untuk menyibukkan diri dengan perkara yang lebih penting
yang dibutuhkan saat itu ketimbang perkara yang saat tersebut belum dibutuhkan.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Patuh kepada Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam :59 : 7, 8 : 46
2.
Bertakwa sebatas kemampuan :64 : 16 .
3.
Berdebat yang tak berguna dan bertikai, sumber kehancuran : 40 : 5
الحـديث العاشر
HADITS KESEPULUH
سبب إجابة الدعاء
عن أبي هريرةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ قالَ: قالَ
رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( إِنَّ
اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا، وإِنَّ اللهَ أَمَرَ
الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ تَعَالَى: {يَأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ
الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا}،
وَقَالَ تَعَالَى:{يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ
طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ}. ثُمَّ
ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى
السَّماءِ يا رَبُّ.. يا رَبُّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامِ،
وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامَ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟{ رواه مسلمٌ }.
Kosa kata :
|
يقبل : Menerima
|
يطيل: Panjang / jauh
|
|
أشعث : Kusut
|
أغبر : Berdebu / dekil
|
|
يَمُدّ : Memanjangkan/
mengangkat
|
فأَنَّى:
Maka dari mana/ bagaimana
|
Terjemah
hadits :
Dari
Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ta’ala itu
baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan
orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firman-Nya:
Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalehlah. Dan Dia
berfirman: Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang
Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang
melakukan perjalan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia mengangkatkan
kedua tangannya ke langit seraya berkata: Ya Tuhanku, Ya Tuhanku, padahal
makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi
dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan
dikabulkan. (Riwayat Muslim).
Kandungan Hadits:
1.
Dalam hadits di atas terdapat pelajaran
akan sucinya Allah ta’ala dari segala kekurangan dan cela.
2.
Allah ta’ala tidak menerima
kecuali sesuatu yang baik. Maka siapa yang bersedekah dengan barang haram tidak
akan diterima.
3.
Sesuatu yang disebut baik
adalah apa yang dinilai baik disisi Allah ta’ala.
4.
Berlarut-larut dalam perbuatan
haram akan menghalangi seseorang dari terkabulnya doa.
5.
Orang yang maksiat tidak
termasuk mereka yang dikabulkan doanya kecuali mereka yang Allah kehendaki.
6.
Makan barang haram dapat
merusak amal dan menjadi penghalang diterimanya amal perbuatan.
7.
Anjuran untuk berinfaq dari
barang yang halal dan larangan untuk berinfaq dari sesuatu yang haram.
8.
Seorang hamba akan diberi
ganjaran jika memakan sesuatu yang baik dengan maksud agar dirinya diberi
kekuatan untuk ta’at kepada Allah.
9.
Doa orang yang sedang safar dan
yang hatinya sangat mengharap akan terkabul.
10.
Dalam hadits terdapat sebagian
sebab-sebab dikabulkannya do’a: Perjalanan jauh, kondisi yang bersahaja dalam
pakaian dan penampilan dalam keadaan kusut dan berdebu, mengangkat kedua tangan
ke langit, meratap dalam berdoa, keinginan kuat dalam permintaan, mengkonsumsi
makanan, minuman dan pakaian dengan sesuatu yang halal.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Mempersembahkan
yang terbaik untuk Allah: 28 : 77
2. Mengkonsumsi yang
halal : 5 :88
3. Meratap dalam
berdoa : 19 :3, 32 : 16
الحـديث الحادي عشر
HADITS KESEBELAS
اترك ما شككت فيه
عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْحَسَنِ بْنِ
عَلِي بْنِ أبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ.
[رواه
الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]
Kosa kata :
|
حفظ(ت)
: (saya) menghafal
|
دَعْ : Tinggalkan
|
|
يريب(ك) : Meragukan-(mu)
|
Terjemah hadits:
Dari
Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam dan kesayangannya radhiallahuanhuma dia
berkata: Saya menghafal dari Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam (sabdanya): Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang
tidak meragukanmu.(Riwayat Turmuzi dan dia berkata, Haditsnya hasan shahih)
Kandungan
Hadits:
1.
Meninggalkan syubhat dan
mengambil yang halal akan melahirkan sikap wara’.
2.
Keluar dari ikhtilaf
ulama lebih utama karena hal tersebut lebih terhindar dari perbuatan syubhat,
khususnya jika di antara pendapat mereka tidak ada yang dapat dikuatkan.
3.
Jika keraguan bertentangan
dengan keyakinan maka keyakinan yang diambil.
4.
Sebuah perkara harus jelas
berdasarkan keyakinan dan ketenangan. Tidak ada harganya keraguan dan
kebimbangan.
5.
Berhati-hati dari sikap
meremehkan terhadap urusan agama dan masalah bid’ah.
6.
Siapa yang membiasakan perkara
syubhat maka dia akan berani melakukan perbuatan yang haram.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Meninggalkan
keragu-raguan: 14 : 10 ,
49 : 15, 2 : 2
الحــديث الثاني عشر
HADITS KEDUA
BELAS
الاشتغال بما يفيد
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ[حديث حسن رواه
الترمذي وغيره هكذا]
Kosa kata:
|
ترك(ـه) (dia) meninggalkan
|
يعني(ـه) : Penting (baginya)
|
Terjemah hadits:
Dari Abu Hurairah
radhiallahunhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa
sallam bersabda: Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia
meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya. (Hadits Hasan riwayat
Turmuzi dan lainnya)
Kandungan
Hadits:
1.
Termasuk sifat-sifat orang
muslim adalah dia menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang mulia serta
menjauhkan perkara yang hina dan rendah.
2.
Pendidikan bagi diri dan
perawatannya dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di dalamnya.
3.
Menyibukkkan diri dengan
sesuatu yang tidak bermanfaat adalah kesia-siaan dan merupakan pertanda
kelemahan iman.
4.
Anjuran untuk memanfaatkan
waktu dengan sesuatu yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri bagi dunia
maupun akhirat.
5.
Ikut campur terhadap sesuatu
yang bukan urusannya dapat mengakibatkan kepada perpecahan dan pertikaian di
antara manusia.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Optimalisasi waktu dan potensi
: 103
: 1-3, 2 : 148
2.
Meninggalkan hidup terlena : 63
: 9, 31 : 6
الحـديث الثالث عشر
HADITS
KETIGA BELAS
من كمال الإيمان
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَس بْنِ
مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ[رواه البخاري ومسلم]
Kosa
kata :
|
يحب : Mencintai
|
(لـ)نفس(ـه)
: (untuk) diri-(nya)
|
Terjemah
hadits :
Dari Abu
Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, beliau
bersabda, "Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia
mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kandungan Hadist :
1.
Seorang mu’min dengan mu’min
yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan
dia mencintai dirinya sendiri.
2.
Menjauhkan perbuatan hasad
(dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kesempurnaan iman.
3.
Iman dapat bertambah dan
berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
4.
Anjuran untuk menyatukan hati.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Menyakiti saudara sama dengan
menyakiti diri sendiri : 49 : 12
2.
Ukhuwwah Islamiah : 49 : 10, 3 : 103
الحــديث الرابع عشر
HADITS KEEMPAT BELAS
متى يهدر دم المسلم
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ
يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى
ثَلاَثٍ : الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ
الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ[رواه البخاري ومسلم]
Kosa kata :
|
يحل: Halal
|
دم: Darah
|
|
الثيب: Yang
sudah menikah
|
الزاني : Orang
yang berzina
|
|
التارك: Yang
meninggalkan
|
المفارق : Memisahkan
dirinya
|
Terjemah hadits :
Dari
Ibnu Mas’ud radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam bersabda: Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa
tidak ada ilah selain Allah dan bahwa saya (Rasulullah shallallahu`alaihi wa
sallam) adalah utusan Allah kecuali dengan tiga sebab: Duda/janda (orang yang
telah pernah menikah) yang berzina, membunuh orang lain (dengan sengaja), dan
meninggalkan agamnya berpisah dari jamaahnya. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kandungan
Hadist :
1.
Tidak boleh menumpahkan darah
kaum muslimin kecuali dengan tiga sebab, yaitu: zina muhshon (orang yang
sudah menikah), membunuh manusia dengan sengaja dan meninggalkan agamanya
(murtad) berpisah dari jamaah kaum muslimin.
2.
Islam sangat menjaga
kehormatan, nyawa dan agama dengan menjatuhkan hukuman mati kepada mereka yang
mengganggunya seperti dengan melakukan zina, pembunuhan dan murtad.
3.
Sesungguhnya agama yang
disepakati adalah yang dipegang oleh jamaah kaum muslimin, maka wajib dijaga
dan tidak boleh keluar darinya.
4.
Hukum pidana dalam Islam sangat
keras, hal itu bertujuan untuk mencegah (preventif) dan melindungi.
5.
Pendidikan bagi masyarakat
untuk takut kepada Allah ta’ala dan selalu merasa terawasi oleh-Nya dalam
keadaan tersembunyi atau terbuka sebelum dilaksanakannya hukuman.
6.
Hadits di atas menunjukkan
pentingnya menjaga kehormatan dan kesucian.
7.
Dalam hadits tersebut merupakan
ancaman bagi siapa yang membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah ta’ala.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Nyawa seorang
muslim dilindungi : 4 : 93
2.
Hukuman dalam Islam sebagai
bentuk perlindungan: 2 : 179
الحديث الخامس عشر
HADITS KELIMA BELAS
إكرام الضيف
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.[رواه البخاري ومسلم]
Kosa kata :
|
(لـِ)يَصْمُتْ:
(hendaklah) dia diam
|
يُكْرِم
: Memuliakan
|
|
جار(ه) : Tetangga-(nya)
|
ضَيْفَـ(هُ) : Tamu-(nya)
|
Terjemah
hadits :
Dari Abu
Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada
Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya"(Riwayat
Bukhari dan Muslim)
Kandungan
Hadits:
1.
Iman terkait langsung dengan
kehidupan sehari-hari.
2.
Islam menyerukan kepada sesuatu
yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dikalangan individu
masyarakat muslim.
3.
Termasuk kesempurnaan iman
adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.
4.
Berlebih-lebihan dalam
pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan
merupakan jalan keselamatan.
5.
Islam sangat menjaga agar
seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang
diharamkan dalam setiap kondisi.
6.
Tidak memperbanyak pembicaraan
yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang
diharamkan atau yang makruh.
7.
Termasuk kesempurnaan iman
adalah menghormati tetangga dan memperhatikan serta tidak menyakitinya.
8.
Wajib berbicara saat
dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf
nahi munkar.
9.
Memuliakan tamu termasuk di
antara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmennya terhadap syariat Islam.
10.
Anjuran untuk mempergauli orang
lain dengan baik.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Iman dan
pengaruhnya dalam prilaku keseharian: 16: 97
2. Menjaga
perkataan: 50 :18,
3. Hubungan baik
dengan tetangga : 4 :36 ,
4.
Sikap mulia terhadap tamu : 51 :
24-27
الحـديث السادس عشر
HADITS KEENAM BELAS
النهي عن الغضب
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ[رواه البخاري]
Kosa kata :
|
أَوْصِـ(نِي)
: Nasihatilah (saya)
|
لا : Jangan
|
|
ردّد
: Mengulanginya
|
|
|
تغضب : (engkau) marah
|
مراراً : Berkali-kali
|
Terjemah hadits:
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya
seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam: (Ya
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam )
nasihatilah saya. Beliau bersabda :Jangan kamu marah. Dia menanyakan hal
itu berkali-kali. Maka beliau bersabda: Jangan engkau marah. (Riwayat
Bukhari)
Kandungan
Hadist:
1.
Anjuran bagi setiap muslim
untuk memberikan nasihat dan mengenal perbuatan-perbuatan kebajikan, menambah
wawasan ilmu yang bermanfaat serta memberikan nasihat yang baik.
2.
Larangan marah.
3.
Dianjurkan untuk mengulangi
pembicaraan hingga pendengar menyadari pentingnya dan kedudukannya.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Meninggalkan sifat pemarah : 3
: 159, 3 : 134
الحــديث السابع عشر
HADITS KETUJUH BELAS
الرفق بالحيوان
عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ
اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا
الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ
شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ.[رواه مسلم]
Kosa kata :
|
الإحسان: Berlaku
baik
|
قتلـ(ـتم) : (kalian)
membunuh
|
|
القتلة : Cara membunuh
|
ذبحـ(ـتم) : (kalian) menyembelih
|
|
الذبحة : Cara
menyembelih
|
يحد: Mengasah/
menajamkan
|
|
شفرتـ(ـه): Pisau-
(nya) / alatmenyembelih
|
يرح: Senangilah
|
|
|
ذبيحتـ(ـه):
Hewan
sembelihan(nya)
|
Terjemah
hadits:
Dari
Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiallahuanhu dari Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah telah
menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh
maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah
baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan
sembelihannya. (Riwayat Muslim)
Kandungan
Hadist:
1.
Syariat Islam menuntut
perbuatan ihsan kepada setiap makhluk termasuk di antaranya adalah hewan.
2.
Tidak boleh menyiksa dan
merusak tubuh sebagai sasaran dan tujuan, tidak juga boleh menyayat-nyayat
orang yang dihukum qishash.
3.
Termasuk ihsan juga adalah
terhadap hewan ternak dan belas kasih terhadapnya. Tidak boleh membebaninya
diluar kemampuannya serta tidak menyiksanya saat menyembelihnya.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Profesionalisme :28
: 77
2.
Berbuat baik hingga kepada
seluruh makhluk (ihsan) : 2 : 195
الحــديث الثامن عشر
HADITS
KEDELAPAN BELAS
الخلق الحسن
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي
عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ
صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
حَسَنٍ[رواه
الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]
Kosa
kata :
|
اتَّقِ (الله) : Bertakwalah (kepadaAllah)
|
حيثما
: Dimana saja
|
|
أتبع : Ikutilah
|
السيئة : Keburukan
|
|
تمحـ(ها) : Menghapus-(nya)
|
خالق:
Pergaulilah
|
|
|
(بـ)خُلُق :(dengan) akhlak
|
Terjemah
hadits:
Dari
Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, dan Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma
dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: Bertakwalah
kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan yang
dapat menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik .“
(Riwayat Turmuzi, dia berkata, "haditsnya hasan, pada sebagian cetakan
dikatakan hasan shahih).
Kandungan Hadist:
1.
Takwa kepada Allah merupakan
kewajiban setiap muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shaleh.
2.
Bersegera melakukan ketaatan
setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.
3.
Bersungguh-sungguh menghias
diri dengan akhlak mulia.
4.
Menjaga pergaulan yang baik
merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat.
Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Takwa, bekal
disetiap tempat dan waktu :2 : 197
2. Akhlak mulia : 68 :4
الحــديث التاسع عشر
HADITS KESEMBILAN BELAS
الإيمان بالقضاء والقدر
عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ
بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ
كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا
سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ
أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ
يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ
اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ
إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ
الصُّحُفُ[رواه الترمذي
وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ،
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ
لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ
أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ
الْعُسْرِ يُسْراً].
Kosa kata :
|
خلف : Dibelakang
|
أُعَلِّمُـ(ك):
(saya) ajarkan (engkau)
|
|
اِحْفَظ : Peliharalah /jagalah
|
تجاهـ(ك) : Dihadapan-(mu)
|
|
اسْتَعَنْـ(تَ):
(engkau) minta pertolongan
|
اجتمعـ(ت):
Berkumpul.
|
|
ينفعو(ك):
memberikan manfaat
(kepadamu)
|
يضرو(ك):
Mendatangkan bahaya (kepadamu)
|
|
رُفِعَـ(ت)
: Diangkat
|
الأقلام : Bentuk jamak dari قلم
|
|
جَفَّـ(ت) : Kering
|
الصحف:
Bentuk jamak dari صحيفة yaitu: catatan
|
Terjemah hadits :
Dari
Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata: Suatu
saat saya berada dibelakang nabi shallallahu`alaihi wa sallam, maka
beliau bersabda: Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu empat perkara:
Jagalah Allah[10]),
niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada di
hadapanmu[11]).
Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan,
mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika suatu umat
berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan
dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan
bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya
mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan
bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering[12])
. (Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih).
Dalam
sebuah riwayat selain Turmuzi dikatakan: Jagalah Allah, niscaya engkau akan
mendapatkan-Nya di depanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan
mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang tidak ditakdirkan atasmu
tidak akan menimpamu dan apa yang menimpamu itulah yang ditakdirkan atasmu,
ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan
dan kesulitan bersama kemudahan).
Kandungan Hadist :
1.
Perhatian Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam dalam
mengarahkan umatnya serta menyiapkan generasi mu’min idaman.
2.
Termasuk adab pengajaran adalah
menarik perhatian pelajar agar timbul keinginannya terhadap pengetahuan
sehingga hal tersebut lebih terkesan dalam dirinya.
3.
Siapa yang konsekwen
melaksanakan perintah-perintah Allah, nicsaya Allah akan menjaganya di dunia dan
akhirat.
4.
Beramal saleh serta
melaksanakan perintah Allah dapat menolak bencana dan mengeluarkan seseorang
dari kesulitan.
5.
Tidak mengarahkan permintaan
apapun (yang tidak dapat dilakukan makhluk) selain kepada Allah semata.
6.
Manusia tidak akan mengalami musibah
kecuali berdasarkan ketetapan Allah ta’ala.
7.
Menghormati waktu dan
menggunakannya untuk sesuatu yang bermanfaat sebagaimana Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam memanfaatkan
waktunya saat beliau berkendaraan.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Menyiapkan
generasi beriman: 4 : 9, 25 : 74, 46 :15
2. Allah tempat
bergantung dan berlindung: 1 : 5, 112 : 2
3.
Musibah dan keberuntungan hanya
datang dari Allah: 64 : 11, 9
: 51 , 7 : 188, 10
: 49 .
الحــديث العشرون
HADITS
KEDUA PULUH
الحياء من الإيمان
عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ
عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ
النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.[رواه البخاري ]
Kosa kata :
|
أدرك:
Diketahui, didapatkan
|
النبوة : Kenabian
|
|
لم:
Huruf nafi, artinya: tidak
|
تستح
(تستحي) :
(engkau) malu .
|
|
(فـ)ـاصنع : (maka)
perbuatlah
|
شِئْـ(ـت):
(yang engkau) sukai
|
Terjemah hadits:
Dari
Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia
berkata, Rasulullah shallallahu`alaihi wa
sallam bersabda: Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang
dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah:
Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka.(Riwayat
Bukhari).
Kandungan Hadist :
1.
Malu merupakan tema yang telah
disepakati oleh para nabi dan tidak terhapus ajarannya.
2.
Jika seseorang telah
meninggalkan rasa malu, maka jangan harap lagi (kebaikan) darinya sedikitpun.
3.
Malu merupakan landasan akhlak
mulia dan selalu bermuara kepada kebaikan. Siapa yang banyak malunya lebih
banyak kebaikannya, dan siapa yang sedikit rasa malunya semakin sedikit
kebaikannya.
4.
Rasa malu merupakan prilaku dan
dapat dibentuk. Maka setiap orang yang memiliki tanggung jawab hendaknya
memperhatikan bimbingan terhadap mereka yang menjadi tanggung jawabnya.
5.
Tidak ada rasa malu dalam
mengajarkan hukum-hukum agama serta menuntut ilmu dan kebenaran. Allah ta’ala
berfirman: “ Dan Allah tidak malu dari kebenaran “ (33 : 53).
6.
Di antara manfaat rasa malu
adalah ‘Iffah (menjaga diri dari perbuatan tercela) dan Wafa’
(menepati janji).
7.
Rasa malu merupakan cabang iman
yang wajib diwujudkan.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Menumbuhkan rasa malu sesuai
proporsinya: 33:53
الحــديث الحادي والعشرون
HADITS KEDUAPULUH SATU
الاستقامه بالإسلام
عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي
عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :
قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ
عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ[رواه مسلم]
Kosa kata :
|
أسأل
: (saya) bertanya
|
اِسْتَقِم : Istiqomah-lah, berpegang teguhlah.
|
Terjemah hadits :
Dari Abu Amr, -ada juga yang mengatakan-
: Abu ‘Amrah, Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqofi radhiallahuanhu dia
berkata, saya berkata: Wahai Rasulullah, katakan kepada saya tentang Islam
sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu. Beliau
bersabda, Katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian berpegang
teguhlah. (Riwayat Muslim).
Kandungan Hadist :
1.
Iman kepada Allah ta’ala harus
mendahului ketaatan.
2.
Amal saleh dapat menjaga
keimanan.
3.
Iman dan amal saleh keduanya
harus dilaksanakan.
4.
Istiqomah merupakan derajat yang
tinggi.
5.
Keinginan yang kuat dari para
shahabat dalam menjaga agamanya dan merawat keimanannya.
6.
Perintah untuk istiqomah dalam
tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah semata hingga mati.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Bertanya
untuk mendapatkan kebaikan : 2 : 149, 2 : 512, 2 : 217, 2
: 219, 2 : 219, 2 :220.
2. Iman
dan istiqomah: 41 : 30, 46 : 13, 72 : 16, 15 : 99
الحـديث الثاني والعشرون
HADITS KEDUAPULUH DUA
الطريق إلى الجنة
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرْ بْنِ
عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ
رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا
صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ،
وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ
الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .[رواه
مسلم]
Kosa kata:
|
المكتوبات : Shalat-shalat fardu
|
أحللـ(تُ):
(saya) menghalalkan
|
|
حرَّمـ(تُ):
(saya) mengharamkan
|
أ/هل : Apakah
|
Terjemah hadits:
Dari
Abu Abdullah, Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiallahuanhuma: Seseorang
bertanya kepada Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, seraya berkata:
Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa
Ramadhan, Menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram[13])
dan saya tidak tambah sedikitpun, apakah saya akan masuk surga? Beliau
bersabda: Ya. (Riwayat Muslim)
Catatan:
*
Seseorang yang bertanya dalam riwayat diatas adalah: An Nu’man bin Qauqal.
Kandungan Hadist:
1.
Setiap muslim dituntut untuk
bertanya kepada ulama tentang syariat Islam, tentang kewajibannya dan apa yang
dihalalkan dan diharamkan baginya jika hal tersebut tidak diketahuinya.
2.
Penghalalan dan pengharaman
merupan aturan syariat, tidak ada yang berhak menentukannya kecuali Allah
ta’ala.
3.
Amal saleh merupakan sebab
masuknya seseorang ke dalam syurga.
4.
Keinginan dan perhatian yang
besar dari para shahabat serta kerinduan mereka terhadap syurga serta upaya
mereka dalam mencari jalan untuk sampai ke sana.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Evaluasi diri / muhasabah: 59 : 18
2. Rindu syurga : 3 : 133, 66 : 11
3.
Memperhatikan halal haram dalam kehidupan: 9 : 29 , 66 : 1, 7 : 157
الحديث الثالث
والعشرون
HADITS
KEDUAPULUH TIGA
جوامع الخير
عَنْ أَبِيْ مَالِكْ الْحَارِثِي
ابْنِ عَاصِم اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الطُّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ، وَالْحَمْدُ
للهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانِ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ – أَوْ
تَمْلآنِ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ،
وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ
النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا[رواه مسلم]
Kosa kata :
|
الطهور:
Bersuci
|
شطر
: Setengah, sebagian
|
|
تملأ
(تملآن) : Memenuhi
|
برهان
:
Bukti
|
|
يغدو : Berangkat (pagi hari)
|
بائع : Menjual
|
|
موبق
: Menghancurkan
|
معتق : Memerdekakan
|
|
ها
pada kalimat موبق
dan معتق
kembali kepada kalimat نفس
(jiwa).
|
|
Terjemah hadits :
Dari
Abu Malik Al Haritsy bin ‘Ashim Al ‘Asy’ary radhiallahuanhu dia berkata:
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Bersuci sebagian
dari iman, Al Hamdulillah dapat memenuhi timbangan[14]),
Subhanallah dan Al Hamdulillah dapat memenuhi antara langit dan
bumi, Shalat adalah cahaya[15]),
shadaqah adalah bukti[16]),
Al Quran dapat menjadi saksi yang meringankanmu atau yang memberatkanmu. Semua
manusia berangkat menjual dirinya[17]),
ada yang membebaskan dirinya (dari kehinaan dan azab) ada juga yang
menghancurkan dirinya. (Riwayat
Muslim).
Kandungan Hadist:
1.
Iman merupakan ucapan dan
perbuatan, bertambah dengan amal saleh dan keta’atan dan berkurang dengan
maksiat dan dosa.
2.
Amal perbuatan akan ditimbang
pada hari kiamat dan dia memiliki beratnya.
3.
Bersuci merupakan syarat sahnya
ibadah, karena itu harus diperhatikan.
4.
Menjaga shalat akan
mendatangkan petunjuk dan memperbaiki kondisi seorang muslim terhadap manusia,
membedakannya dengan akhlaknya dan perilakunya, kewara’annya dan ketakwaannya.
5.
Seruan untuk berinfaq pada
jalan-jalan kebaikan dan bersegera melakukannya di mana hal tersebut merupakan
pertanda benarnya keimanan.
6.
Anjuran untuk bersabar tatkala
mengalami musibah, khususnya apa yang dialami seorang muslim karena perbuatan
amar ma’ruf nahi munkar.
7.
Semangat membaca Al Quran
dengan pemahaman dan men-tadabbur-kan (merenungkan) ma’nanya,
mengamalkan kandungan-kandungannya karena hal tersebut dapat memberi syafaat
bagi seorang hamba pada hari kiamat.
8.
Seorang muslim harus
menggunakan waktu dan umurnya dalam keta’atan kepada Allah ta’ala serta tidak
mengabaikan karena kesibukan lainnya.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Keutamaan bersuci : 9 : 108, 2 : 222
2. Keutamaan dan
kekuatan zikir: 8 : 45 ,
13 : 28
3. Shadaqah : 2 : 261, 57 : 18, 33
: 35.
4. Interaksi dengan
Al Quran : 4 : 82, 7 : 204,
25 : 30
5. Perbuatan manusia
kembali kepada dirinya: 17 : 7
الحــديث الرابع والعشرون
HADITS KEDUAPULUH EMPAT
من فضل الله على الناس
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ
أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ
بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ،
فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ
أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ
إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ
تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً،
فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا
ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي
لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى
أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً .
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ
كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ
مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ
وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ
مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ
إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا
لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ
وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ.[رواه مسلم]
Kosa
kata :
|
تظالموا:
(kalian) saling menzalimi
|
ضال:
Sesat
|
|
هديـ(تـ)(ـه)
: (aku) berikan hidayah (kepadanya)
|
استهدوني
: Hendaklah kalian minta hidayah dariku
|
|
جائع : Lapar
|
أطعمـ(تـ)(ـه)
: (Aku) berikan makan (kepadanya)
|
|
استطعموني:
Mintalah makan kepada-Ku
|
عار:
Telanjang
|
|
كسو(تـ)(ـه) : (Aku) memberi pakaian (kepadanya)
|
استكسوني
: Mintalah pakaian kepada-Ku.
|
|
تخطئون
: (kalian) melakukan
kesalahan
|
تبلغوا:
(kalian) sampai, dapat
|
|
أتقى
: Yang paling bertaqwa
|
زاد
: Menambah
|
|
أفجر
: Orang paling durhaka
|
نقص:
Mengurangi
|
|
صعيد : Tempat, bukit.
|
المخيط:
Jarum
|
|
أحصيـ(ها)
: (Aku) menghitung(nya)
|
أوفيـ(كم)
: (Aku) kembalikan (balasannya) (kepada kalian)
|
Terjemah
hadits :
Dari
Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari RabbnyaAzza
Wajalla bahwa Diaberfirman [18]):
Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan
Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) di antara kalian, maka janganlah
kalian saling berlakuzalim. Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat
kecualisiapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku
akan memberikan kalian hidayah. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya kelaparan
kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku
niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang
kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian
kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya
melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya,
maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya
tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak
ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hamba-Ku seandainya sejak
orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan
jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal
tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun.
Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai
orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti
orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi
kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai
orang terakhir semunya berdiri di sebuah
bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi,
niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah
jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua
perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan
balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia
bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah
ada yang dicela kecuali dirinya.(Riwayat Muslim)
Kandungan Hadist:
1.
Menegakkan keadilan di antara
manusia serta haramnya kezaliman di antara mereka merupakan tujuan dari ajaran
Islam yang paling penting.
2.
Wajib bagi setiap orang untuk
memudahkan jalan petunjuk dan memintanya kepada Allah ta’ala.
3.
Semua makhluk sangat tergantung
kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan terhadap dirinya
baik dalam perkara dunia maupun akhirat.
4.
Pentingnya istighfar dari
perbuatan dosa dan sesungguhnya Allah ta’ala akan mengampuninya.
5.
Lemahnya makhluk dan
ketidakmampuan mereka dalam mendatangkan kecelakaan dan kemanfaatan.
6.
Wajib bagi setiap mu’min untuk
bersyukur kepada Allah ta’ala atas ni’mat dan taufiq-Nya.
7.
Sesungguhnya Allah ta’ala
menghitung semua perbuatan seorang hamba dan membalasnya.
8.
Dalam hadits terdapat petunjuk
untuk mengevaluasi diri (muhasabah) serta penyesalan atas dosa-dosa
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Besarnya bahaya kezaliman : 7 : 44 , 10 : 13
2.
Allah sumber hidayah dan rezeki : 18
: 17 ,
3.
Kemurahan dan ampunan Allah
ta’ala : 39 : 53, 7 : 156
4.
Kebaikan dan keburukan akan
kembali kepada manusia : 17
: 7, 47 : 38, 7 : 160
الحـديث الخامس
والعشرون
HADITS
KEDUAPULUH LIMA
فضل الذكر
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
: أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ
بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ،
وَيتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ
لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ
تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً
وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ
أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا
رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟
قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟
فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ .
[رواه
مسلم]
Kosa kata :
|
الدثورBentuk jamak dari دثر
: harta yang banyak
|
الأجور:
jamak الأجر
: pahala
|
|
فضول
: Sesuatu yang berlebih
|
وزر
: Dosa
|
|
|
بضع:Kemaluan
(maksudnya adalah: jima’)
|
Terjemah hadits:
Dari
Abu Dzar radhiallahuanhu: Sesungguhnya sejumlah orang dari shahabat
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam [19])
berkata kepada Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam: “ Wahai Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi dengan
membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa
sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka
(sedang kami tidak dapat melakukannya). (Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam) bersabda: Bukankah Allah telah
menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah? Sesungguhnya
setiaptashbih[20])merupakan
sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah,
setiap tahlil merupakan sedekah,amar ma’ruf nahi munkar merupakan sedekah dan
setiapkemaluan kalian[21])
merupakan sedekah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah masakah dikatakan
berpahala seseorang di antara kami yang menyalurkan syahwatnya? Beliau
bersabda: Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di
jalan yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut
diletakkan pada jalan yang halal, maka baginya mendapatkan pahala. (Riwayat
Muslim)
Kandungan Hadist :
1.
Sikap bijak dalam menanggapi
berbagai kondisi serta mendatangkan kabar gembira bagi jiwa serta menenangkan
perasaan.
2.
Para shahabat berlomba-lomba
untuk berbuat kebaikan.
3.
Luasnya keutamaan Allah ta’ala
serta banyaknya pintu-pintu kebaikan yang dibuka bagi hamba-Nya.
4.
Semua bentuk zikir sesungguhnya
merupakan shadaqah yang dikeluarkan seseorang untuk dirinya.
5.
Kebiasaan-kebiasaan mubah dan
penyaluran syahwat yang disyariatkan dapat menjadi ketaatan dan ibadah jika
diiringi dengan niat saleh.
6.
Anjuran untuk meminta sesuatu
yang dapat bermanfaat bagi seorang muslim dan yang dapat meningkatkan dirinya
ke derajat yang lebih sempurna.
7.
Di dalam hadits ini terdapat
keutamaan orang kaya yang bersyukur dan orang fakir yang bersabar.
8.
Iri terhadap kebaikan orang
lain (agar dirinya seperti orang tersebut) adalah hal yang diperbolehkan dalam
agama.
9.
Sebagaimana menggunakan sesuatu
yang tidak diperbolehkan syariat mendapatkan dosa maka menggunakannya sesuai
dengan petunjuk syariat akan mendatangkan pahala.
Tema hadits dan
ayat-ayat Al Quran yang terkait:
1. Iri terhadap
kebaikan orang lain: 2: 148, 3: 114
2. Pintu-pintu
kebaikan terbuka luas: 2 : 177, 5 : 2
3. Mencari yang
halal dan menjauhi yang haram: 7: 157.
الحــديث السادس
والعشرون
HADITS
KEDUAPULUH ENAM
كثرة طرق الخير
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ
سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ
الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي
دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ
صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا
إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ. [رواه
البخاري ومسلم]
Kosa kata :
|
سلامَى
: Tulang pada telapak tangan dan jari-jari
(yang dimaksud adalah semua anggota
tubuh)
|
تعدل:
Berlaku adil, mendamaikan
ترفع : Mengangkat
|
|
تعين
: Menolong
|
خطوة : Langkah
|
|
متاعـ(ـه):
Harta benda (nya)
|
الأذى:
Gangguan, rintangan
|
|
تميط:
Menyingkirkan, menghilangkan
|
|
Terjemah hadits :
Dari Abu
Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullahshallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Setiap anggota tubuh manusia dapat melakukan
sedekah, setiap hari dimana matahari terbit lalu engkau berlaku adil terhadap
dua orang (yang bertikai) adalah sedekah, engkau menolong seseorang yang
berkendaraan lalu engkau bantu dia untuk
naik kendaraannya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah, ucapan yang baik
adalah sedekah, setiap langkah ketika engkau berjalan menuju shalat adalah sedekah
dan menghilangkan gangguan dari jalan adalah sedekah. (Riwayat Bukhari dan
Muslim)
Kandungan Hadist :
1.
Bersyukur kepada Allah ta’ala
setiap hari atas kesehatan anggota badan.
2.
Allah telah menjadikan -sebagai
rasa syukur terhadap ni’mat-Nya- setiap anggota badan untuk menolong
hamba-hamba Allah ta’ala, bersedekah kepada mereka dengan menggunakannya sesuai
kemaslahatannya.
3.
Temasuk sedekah adalah: Menahan
tangan dan lisan untuk tidak menyakiti orang lain, justru seharusnya digunakan
untuk menunaikan hak-hak setiap muslim.
4.
Jasad harus dikeluarkan
zakatnya sebagaimana harta ada zakatnya. Zakat badan adalah melakukan perbuatan
baik, bersedekah dan pintu-pintunya banyak.
5.
Anjuran untuk mendamaikan kedua
belah pihak, tolong-menolong, mengucapkan kalimat yang baik, berjalan menuju
shalat dan menyingkirkan penghalang dari jalan.
6.
Anjuran untuk membersihkan
sarana-sarana umum.
7.
Anjuran untuk melakukan
keadilan, karena dengan keadilanlah ditegakkan langit dan bumi.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Menolong sesama
manusia: 5 : 2, 107 : 1-7
2.
Menjaga kepentingan
bersama : 7: 56 , 85
3.
Perkataan yang baik: 17 : 23 , 33 : 32, 4
: 9
الحـديث السابع
والعشرون
HADITS
KEDUAPULUH TUJUH
تعريف البر والإثم
عَنْ النَّوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : الْبِرُّ
حُسْنُ الْخُلُقِ وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ
عَلَيْهِ النَّاسُ. [رَوَاهُ مُسْلِم] .
وَعَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَد رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ : جِئْتَ تَسْألُ عَنِ الْبِرِّ قُلْتُ : نَعَمْ، قَالَ : اِسْتَفْتِ
قَلْبَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ
الْقَلْبُ، وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ،
وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ[حديث حسن رويناه في مسندي الإمامين أحمد بن حنبل والدارمي
بإسناد حسن]
Kosa kata :
|
البـر
: Kebaikan
|
الإثـم
: Dosa
|
|
حاك : Mengganggu
|
يطَّلِع : Diketahui, diselidiki
|
Terjemah hadits :
Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu,
dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa
sallam beliau bersabda: “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah
apa yang terasa mengaggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia“
Riwayat Muslim.
Dan
dari Wabishah bin Ma’bad radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendatangi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: Engkau
datang untuk menanyakan kebaikan? saya menjwaba: Ya. Beliau bersabda: Mintalah
pendapat dari hatimu, kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya,
dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwa dan menimbulkan keragu-raguan
dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka
membenarkannya. (Hadits hasan kami riwayatkan dari dua musnad Imam Ahmad
bin Hanbal dan Ad Darimi dengan sanad yang hasan).
Kandungan
Hadist :
1.
Tanda perbuatan dosa adalah
timbulnya keragu-raguan dalam jiwa dan tidak suka kalau hal itu diketahui orang
lain.
2.
Siapa yang ingin melakukan
suatu perbuatan maka hendaklah dia menanyakan hal tersebut pada dirinya.
3.
Anjuran untuk berakhlak mulia
karena akhlak yang mulia termasuk unsur kebaikan yang sangat besar.
4.
Hati seorang mu’min akan tenang
dengan perbuatan yang halal dan gusar dengan perbuatan haram.
5.
Melihat terlebih dahulu
ketetapan hukum sebelum mengambil tindakan. Ambillah yang paling dekat dengan ketakwaan
dan kewara’an dalam agama.
6.
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam ketika menyampaikan sesuatu kepada
para shahabatnya selalu mempertimbangkan kondisi mereka.
7.
Perhatian Islam terhadap
pendidikan sisi agama yang bersifat internal dalam hati orang beriman dan
meminta keputusannya sebelum mengambil tindakan.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1. Kebenaran
melahirkan ketenangan hati :8 :
10 , 13 : 28
2. Hati-hati dalam
memberi fatwa: 17 : 36
3. Hati yang sehat
sensitif terhadap keburukan: 3: 135
الحــديث الثامن
والعشرون
HADITS
KEDUAPULUH DELAPAN
السمع والطاعة
عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ
رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً
وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا
رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدَّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ :
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ
تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ[رَوَاه
داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح]
Kosa kata :
|
وعظـ(نا) : Menasihati (kami)
|
موعظة : Nasihat
|
|
وجلـ(ت) : Takut
|
القلوب : Bentuk jamakقلب: hati
|
|
تأَمَّر : Memerintah
|
يعش (يعيش) : Hidup
|
|
عليـ(كم) : Kalian harus
|
إيا(كم) : Kalian jangan
|
Terjemah hadits:
Dari
Abu Najih Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam memberikan
kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang. Maka
kami berkata: Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka
berilah kami wasiat. Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam bersabda: “ Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah
ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian
adalah seorang budak. Karena di antara kalian yang hidup (setelah ini) akan
menyaksikan banyaknya perbedaan pendapat. Hendaklah kalian berpegang teguh
terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk,
gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari
perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat “ (Riwayat
Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : hasan shahih)
Kandungan
Hadits:
1.
Bekas yang mendalam dari
nasehat Rasulullah shallallahu`alaihi wa
sallam dalam jiwa para shahabat. Hal
tersebut merupakan tauladan bagi para da’i di jalan Allah ta’ala.
2.
Taqwa merupakan yang paling
penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim lainnya, kemudian
mendengar dan ta’at kepada pemerintah selama tidak terdapat di dalamnya
maksiat.
3.
Keharusan untuk berpegang teguh
terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin, karena di dalamnya
terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak terjadi perbedaan
dan perpecahan.
4.
Hadits ini menunjukkan tentang
sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena di dalamnya terdapat kebaikan
dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
5.
Larangan untuk melakukan hal
yang baru dalam agama (bid’ah) yang tidak memiliki landasan dalam agama.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Anjuran berwasiat menjelang
kematian : 2 :180
2.
Berpegang teguh kepada sunnah
Rasul dan menjauhi bid’ah : 59 : 7, 57 : 27
3.
Patuh kepada pimpinan : 4 : 59
الحــديث التاسع
والعشرون
HADITS
KEDUAPULUH SEMBILAN
أبواب الخير
عَنْ مُعَاذِ
بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَخْبِرْنِي
بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ : لَقَدْ
سَأَلْتَ عَنْ عَظِيْمٍ، وَإِنَّهُ
لَيَسِيْرٌ عَلىَ مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ : تَعْبُدُ اللهَ لاَ
تُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً، وَتُقِيْمُ
الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ : أَلاَ أَدُلُّكَ
عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ
الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي
جَوْفِ اللَّيْلِ، ثُمَّ قَالَ :â4nû$yftFs?öNßgç/qãZã_Ç`tãÆìÅ_$ÒyJø9$#á–حَتَّى بَلَغَ-âtbqè=yJ÷ètáثُمَّقَالَ :
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وُعَمُوْدِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ؟ قُلْتُ
بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ
وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ
سَنَامِهِ الْجِهَادُ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟
فَقُلْتُ : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ
بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ عَلَيْكَ
هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ
بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ
يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ
مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.
[رواه الترمذي
وقال : حديث حسن صحيح]
Kosa kata :
|
يسير:
Mudah
|
جُنَّة:
Tameng, pelindung
|
|
تطفئ : Memadamkan
|
جوف
الليل : Pertengahan malam
|
|
تتجافى : Jauh.
|
جنوبـ(هم)
: Jamak dari جنب
: Pinggang
|
|
مضاجع
jamak dari مضجع
: tempatberbaring, tempat tidur
|
عمود : Tiang
|
|
ذروة : Puncak
|
سنام : Punuk onta
|
|
ملاك : kunci semuanya
|
كُفَّ : Tahanlah
|
|
يكب
: Dimasukkan
|
مناخر(هم)
: Jamak منخر
: hidung
|
|
حصائد:
Jamak dari حصيدة
: panen, buah, akibat
|
ألسنة
jamak dari لسان
: lidah
|
Terjemah hadits:
Dari
Mu’az bin Jabal radhiallahuanhu dia berkata: Saya berkata: Ya
Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke
dalam syurga dan menjauhkan saya dari neraka, beliau bersabda, Engkau telah
bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang
dimudahkan Allah ta’ala: Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya
sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji.
Kemudian beliau (Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam) bersabda, Maukah
engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu syurga? Puasa adalah benteng,
Sadaqah akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan
shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail), kemudian beliau
membacakan ayat (yang artinya):“ Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….”.
Kemudian beliau bersabda, Maukah kalian aku bertahukan pokok dari segala
perkara, tiangnya dan puncaknya? aku menjawab: Mau ya Nabi Allah. Pokok
perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad.
Kemudian beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika
kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu?saya berkata: Mau ya
Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda, Jagalah ini
(dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata, Ya Nabi Allah, apakah kita akan
dihukum juga atas apa yang kita bicarakan? beliau bersabda, Ah kamu ini,
adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka –atau sabda
beliau: diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan
mereka. (Riwayat Turmuzi dan dia berkata, Haditsnya hasan shahih)
Kandungan Hadist :
1.
Perhatian shahabat yang sangat
besar untuk melakukan amal yang dapat memasukkan mereka ke syurga.
2.
Amal perbuatan merupakan sebab
masuk syurga jika Allah menerimanya dan hal ini tidak bertentangan dengan sabda
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam “Tidak masuk syurga setiap kalian dengan
amalnya”. Makna hadits tersebut adalah bahwa amal dengan sendirinya
tidak berhak memasukkan seseorang ke syurga selama Allah belum menerimanya
dengan karunia-Nya dan Rahmat-Nya.
3.
Mentauhidkan Allah dan
menunaikan kewajiban adalah sebab masuknya seseorang ke dalam syurga.
4.
Shalat sunnah setelah shalat
fardhu merupakan sebab kecintaan Allah ta’ala kepada hambanya.
5.
Bahaya lisan dan perbuatannya
akan dibalas dan bahwa dia mencampakkan seseorang ke neraka karena ucapannya.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Hakekat keselamatan; masuk
syurga dan terhindar dari neraka : 3
: 185
2.
Allah memudahkan setiap upaya
kebaikan: 2 : 185
3.
Qiyamullail : 17 : 79
4.
Keutamaan Jihad : 61 :
11, 9 : 19
5.
Menjaga lisan : 50 : 18
الحــديث الثلاثون
HADITS KETIGAPULUH
الوقوف عند حدود الشرع
عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِي جُرْثُوْمِ بْنِ
نَاشِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ :
إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْداً
فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ
أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا.[حديث حسن رواه
الدارقطني وغيره] .
Terjemah hadits:
Dari
Abi Tsa’labah Al Khusyani Jurtsum bin Nasyir radhiallahuanhu, dari
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam
dia berkata: Sesungguhnya Allah ta’ala telah menetapkan
kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian mengabaikannya, dan telah menetapkan
batasan-batasannya janganlah kalian melampauinya, Dia telah mengharamkan segala
sesuatu, maka janganlah kalian melanggarnya, Dia mendiamkan sesuatu sebagai
kasih sayang terhadap kalian dan bukan karena lupa jangan kalian mencari-cari
tentangnya. (Hadits hasan riwayat
Daruquthni dan lainnya).
(Hadits
ini dikatagorikan sebagai hadits dha’if [22]).
Lihat Qowa’id wa Fawa’id Minal Arbain An Nawawiah, karangan Nazim Muhammad
Sulthan, hal. 262. Lihat pula Misykatul Mashabih, takhrij Syekh Al Albani,
hadits no. 197, juz 1. Lihat pula Jami’ Al Ulum wal Hikam, oleh Ibnu Rajab).
الحــديث الحادي والثلاثون
HADITS
KETIGAPULUH SATU
الزهد في الدنيا
عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْل بِنْ
سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى
عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ :
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ
يُحِبُّكَ النَّاسُ .[حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره
بأسانيد حسنة]
Kosa
kata :
|
دلـ(ني):
Tunjukkan (kepadaku)
|
أحبـ(ني)
: Mencintai(-ku)
|
|
|
ازهد : Bersikap zuhud-lah
|
Terjemah
hadits :
Dari
Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahuanhu dia berkata: Seseorang
mendatangi Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, maka beliau
berakata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku
kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda, Zuhudlah
terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang
ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia. (Hadits hasan riwayat
Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan).
Kandungan Hadist:
1.
Menuntut kecukupan terhadap
dunia adalah perkara wajib, sedang zuhud adalah tidak adanya keter-gantungan
dan terpusatnya perhatian terhadapnya.
2.
Bersikap qanaah terhadap rizki
yang halal dan ridha terhadapnya serta bersikap ‘iffah dari perbuatan haram dan
hati-hati terhadap syubhat.
3.
Jiwa yang merasa cukup dan
iffah serta berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah merupakan hakekat
zuhud.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Zuhud : 18 : 45 -46,
29 : 64, 102 : 1-5
2.
Menghindari penyakit hasad
(dengki) : 113: 5
الحـديث الثاني
والثلاثون
HADITS
KETIGAPULUH DUA
لاضرر ولا ضرار
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعَدْ بْنِ
سِنَانِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه
وسلَّمَ قَالَ : لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ[حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ
مَاجَه وَالدَّارُقُطْنِي وَغَيْرُهُمَا مُسْنَداً، وَرَوَاهُ مَالِك فِي
الْمُوَطَّأ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ وَلَهُ طُرُقٌ
يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضاً]
Kosa kata :
|
ضرر
: Membahayakan diri sendiri
|
ضرار
: Membahayakan diri orang lain
|
Terjemah hadits :
Dari
Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan Al Khudri radhiallahuanhu, sesungguhnya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh
melakukan perbuatan yang mencelakakan (mudharat)“ (Hadits hasan
diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Daruqutni serta lainnya dengan cara musnad,
juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattha’ secara mursal dari Amr bin
Yahya dari bapaknya dari Rasulullah, dia tidak menyebutkan Abu Sa’id. Akan
tetapi hadits ini memiliki jalan-jalan yang saling menguatkan).
Kandungan Hadist:
1.
Ajaran Islam sangat
mementingkan keselamatan pribadi dan orang lain.
2.
Termasuk sesuatu yang
diharamkan adalah sesuatu yang berbahaya, seperti: rokok, narlotik dll.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Larangan mendatangkan
kecelakaan: 2: 195
الْحَدِيث الثالث والثلاثون
HADITS KETIGAPULUH TIGA
البيّنة على المُدَّعي
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا،
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم : لَوْ يُعْطَى النَّاسُ
بِدَعْوَاهُمْ، لاَدَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ، لَكِنَّ
الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِيْ وَالْيَمِيْنَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ[حديث حسن رواه البيهقي وغيره هكذا،
وبعضه في الصحيحين]
Kosa kata :
|
يُعطَى : Diberikan
|
ادعى
: Menuduh
|
|
البيِّنة : Bukti
|
المدعي : Orang yang menuduh
|
|
اليمين : Sumpah
|
انكر : Mengingkari
|
Terjemah hadits:
Dari
Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam: Seandainya setiap pengaduan manusia diterima, niscaya
setiap orang akan mengadukan harta suatu kaum dan darah mereka, karena itu
(agar tidak terjadi hal tersebut) maka bagi pendakwa agar mendatangkan bukti
dan sumpah bagi yang mengingkarinya“ . (Hadits hasan riwayat Baihaqi dan
lainnya yang sebagiannya terdapat dalam As Shahihain)
Kandungan Hadist:
1.
Seorang hakim harus meminta
dari kedua orang yang bersengketa sesuatu yang dapat menguatkan pengakuan
mereka.
2.
Seorang hakim tidak boleh
memutuskan sebuah perkara dengan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang
halal.
3.
Pada dasarnya seseorang bebas
dari tuduhan hingga terbukti perbuatan jahatnya.
4.
Seorang hakim harus berusaha
keras untuk mengetahui permasalahan sebenarnya dan menjelaskan hukumnya
berdasarkan apa yang tampak baginya.
5.
Bersumpah hanya diperbolehkan
atas nama Allah.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Hukum harus ditegakkan : 4
: 65, 24 : 51
2.
Penegakkan hukum harus
berdasarkan prinsip yang jelas : 24 : 4, 24 : 23
الحديث الرابع والثلاثون
HADITS
KETIGAPULUH EMPAT
تغيير المنكر فريضة
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ
اْلإِيْمَانِ
[رواه
مسلم]
Kosa kata :
|
يغَيـِّر
: Merubah
|
أضعف
: Yang paling lemah
|
Terjemah hadits :
Dari
Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhuberkata
: Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam bersabda: Siapa yang
melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka
rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan
hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.(Riwayat Muslim)
Kandungan Hadist:
1.
Menentang pelaku kebatilan dan
menolak kemunkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam atas
setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya.
2.
Ridha terhadap kemaksiatan
termasuk di antara dosa-dosa besar.
3.
Sabar menanggung kesulitan dan
amar ma’ruf nahi munkar.
4.
Amal merupakan buah dari iman,
maka menyingkirkan kemunkaran juga merupakan buahnya keimanan.
5.
Mengingkari dengan hati
diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan tangan dan lisan
berdasarkan kemampuannya.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Keutamaan mengatasi kemunkaran: 5 : 78,
7 : 165
2.
Realisasi iman : 2 : 278, 3 :
139, 5 : 23 ,
3.
Tingkatan iman : 8 : 2
الحـديث الخامس والثلاثون
HADITS
KETIGAPULUH LIMA
المسلم أخو المسلم
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ
تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى
بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو
الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ.
التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى
صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
– بِحَسَبِ
امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ
عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
[رواه
مسلم]
Kosa kata :
|
تحاسدوا: (kalian) saling dengki
|
تناجشوا: (kalian) saling menipu
|
|
تباغضوا: (kalian) saling membenci
|
تدابروا :(kalian)
saling memu-tuskan hubungan
|
|
يبع (يبيع) : Menjual
|
يخذلـ(ـه): Merendahkan-(nya)
|
|
يحقر(ه): Menghina-(nya)
|
صدر(ه): Dada (nya)
|
|
بحسب : Cukup
|
|
Terjemah hadits:
Dari
Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Janganlah
kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan
hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang
lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah
saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya,
tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya
menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan
buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang
lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya“ (Riwayat Muslim).
Kandungan Hadist:
1.
Larangan untuk saling dengki.
2.
Larangan untuk berbuat keji dan
menipu dalam urusan jual beli.
3.
Diharamkan untuk memutuskan
hubungan terhadap muslim. Sebaliknya harus dijaga persaudaraan dan hak-haknya
karena Allah ta’ala.
4.
Islam bukan hanya aqidah dan
ibadah saja, tetapi juga di dalamnya terdapat urusan akhlak dan muamalah.
5.
Hati merupakan sumber rasa
takut kepada Allah ta’ala.
6.
Taqwa merupakan barometer
keutamaan dan timbangan seseorang.
7.
Islam memerangi semua akhlak
tercela karena hal tersebut berpengaruh negatif dalam masyarakat Islam.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Menciptakan pergaulan yang baik
dan harmonis : 49 : 10
2.
Realisasi ukhuwah Islamiyah : 9
: 71
3.
Barometer kehidupan; Taqwa : 49
: 13
4.
Dihormatinya hak dan martabat seorang
muslim: 5 : 32 , 22 : 30
الحديث
السادس والثلاثون
HADITS
KETIGAPULUH ENAM
قضاء حوائج المسلمين
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ
عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ
كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي
الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ
أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ
طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ
اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ
عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ
الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَأَ فِي
عَمَلِهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ.[متفق عليه]
Kosa kata :
|
نفَّس : Meringankan atau
menghilangkan
|
كربة
(كرب)
: Cobaan berat
|
|
مُعْسِر
: Orang yang kesulitan
|
|
|
يسَّرَ : Memudahkan
|
عون : Pertolongan
|
|
ستَرَ : Menutupi
سلك : Menempuh
اجتمع : Berkumpul
السكينة : Ketenangan
|
سهّل
: Memudahkan
يتدارسونـ(ـه):
(Mereka) saling
mempelajari-(nya)
|
|
غشيتـ(هم) : Liputi, curahkan
|
|
|
حفتـ(هم):
mengelilingi (mereka)
|
(kepada mereka)
|
|
يسرع
: Segera
|
بطأ
: Lambat
|
Terjemah hadits :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang
mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan
kesulitan-kesulitannya di Hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang
sedang kesulitann niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan
siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan
akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.
Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya
jalan ke syurga. Suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca
kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan
kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka
dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya.
Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.
(Muttafaq alaih).
Kandungan Hadist:
1.
Siapa yang membantu seorang
muslim dalam menyelesaikan kesulitannya, maka akan dia dapatkan pada hari kiamat
sebagai tabungannya yang akan memudahkan kesulitannya di hari yang sangat sulit
tersebut.
2.
Sesungguhnya pembalasan disisi
Allah ta’ala sesuai dengan jenis perbuatannya.
3.
Berbuat baik kepada makhluk
merupan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala.
4.
Meluruskan niat dalam rangka
mencari ilmu dan ikhlas di dalamnya agar tidak menggugurkan pahala sehingga
amal dan usahanya sia-sia.
5.
Memohon pertolongan kepada Alla
ta’ala dan kemudahan dari-Nya, karena ketaatan tidak akan terlaksana kecuali
karena kemudahan dan kasih sayang-Nya.
6.
Selalu membaca Al Quran,
memahaminya dan mengamalkannya.
7.
Keutamaan duduk di rumah Allah
untuk mengkaji ilmu.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Menumbuhkan kepekaan sosial : 107
: 1-7, 70 : 24
2.
Menjaga nama baik seseorang : 49
: 11
3.
Menumbuhkan tradisi ilmiah :96
: 1, 170 : 36.
4.
Berinteraksi terhadap Al Quran:
73 : 4, 47: 24, 33:36
الحديث السابع والثلاثون
Hadits
ketigapuluh tujuh
الترغيب في فعل الحسنات
عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ
رَسُوْلِ اللهِ صَلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى : إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ
ذَلِكَ : فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا عِنْدَهُ حَسَنَةً
كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَةَ
حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ
إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا
كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا
اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً[رواه البخاري ومسلم في صحيحهما بهذه الحروف]
Kosa kata:
|
بيَّـن:
Menjelaskan
|
همَّ
: Berkeinginan
|
|
ضعف
(أضعاف) : Kelipatan
|
سئية
: Keburukan
|
Terjemah hadits:
Dari
Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha
Tinggi: Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian
menjelaskan hal tersebut: Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia
tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan
jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan
mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan
hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan
kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan
jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu
keburukan. (Riwayat Bukhari dan
Muslim dalam kedua shahihnya dengan redaksi ini).
Kandungan
Hadits:
1.
Kasih sayang Allah terhadap
hamba-Nya yang beriman sangat luas dan ampunannya menyeluruh sedang
pemberian-Nya tidak terbatas.
2.
Sesungguhnya apa yang tidak
kuasa oleh manusia, dia tidak diperhitungkan dan dipaksa menunaikannya.
3.
Allah tidak menghitung
keinginan hati dan kehendak perbuatan manusia kecuali jika kemudian dibuktikan
dengan amal perbuatan dan praktek.
4.
Seorang muslim hendaklah
meniatkan perbuatan baik selalu dan membuktikannya, diharapkan dengan begitu
akan ditulis pahala dan ganjarannya dan dirinya telah siap untuk
melaksanakannya jika sebabnya telah tersedia.
5.
Semakin besar tingkat
keikhlasan semakin berlipat-lipat pahala dan ganjaran.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
Anjuran berlomba-lomba untuk kebaikan: 2:148, 23 : 61
الحديث الثامن والثلاثون
Hadits Ketigapuluh delapan
جزاء معادات الأولياء
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى
قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ
إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ
يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا
أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ
بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا،
وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ
[رواه
البخاري]
Kosa kata:
|
عادى
: Memusuhi
|
آذنـ(تـ)(ـه):
(Aku) izinkan,
|
|
تقرب :Mendekatkan diri, beribadah
|
umumkan (kepadanya)
|
|
النوافل
jamak dari نافلة
(perkara-perkara sunnah)
|
افترضـ(تـ)(ـه)
: (Aku) wajibkan (padanya)
|
|
استعاذ(ني):
Minta perlindungan(kepada-Ku)
|
يبطش
: Memukul, menampar.
|
|
|
أعيذنـ(ـه)
:(Aku) lindungi (dia)
|
Terjemah
hadits:
Dari Abu
Hurairah radhiallahuanhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: Sesungguhya Allah ta’ala berfirman: Siapa yang
memusushi wali-Ku maka telah Aku umumkan perang terhadapnya. Tidak ada
taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai kecuali beribadah
dengan apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku yang selalu
mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah diluar yang
fardhu) maka Aku akan mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya maka Aku
adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia
gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya
yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan Aku berikan
dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.“
(Riwayat Bukhari).
Kandungan hadits:
1.
Besarnya kedudukan seorang
wali, karena dirinya diarahkan dan dibela oleh Allah ta’ala.
2.
Perbuatan-Perbuatan fardhu
merupakan perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah ta’ala.
3.
Siapa yang kontinyu
melaksanakan amalan sunnah dan menghindar dari perbuatan maksiat maka dia akan
meraih kecintaan Allah ta’ala .
4.
Jika Allah ta’ala telah
mencintai seseorang maka Dia akan mengabulkan doanya.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Pemahaman yang benar tentang wali : 10 : 62-64
2.
Keutamaan ibadah nawafil
(sunnah) : 35 : 32
3.
Kekuatan dari Allah : 22 : 40 , 18 : 39 ,
الحديث التاسع والثلاثون
HADITS
KETIGAPULUH SEMBILAN
التجاوز
عن الخطأ والنسيان
عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ
عَنْ أُمَّتِي : الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ[حديث حسن رواه ابن
ماجة والبيهقي وغيرهما]
Kosa kata:
|
تجاوز: Melewatkan,memaafkan
|
النسيان : Lupa
|
|
استكرهوا : (Mereka) dipaksa
|
|
Terjemah hadits:
Dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ta’ala memafkan umatku
karena aku (disebabkan beberapa hal) : Kesalahan, lupa dan segala sesuatu yang
dipaksa “(Hadits
hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi dan lainnya)
Kandungan Hadist:
1.
Allah ta’ala mengutamakan umat
ini dengan menghilangkan berbagai kesulitan dan memaafkan dosa kesalahan dan
lupa.
2.
Sesungguhnya Allah ta’ala tidak
menghukum seseorang kecuali jika dia sengaja berbuat maksiat dan hatinya telah
berniat untuk melakukan penyimpangan dan meninggalkan kewajiban dengan
sukarela.
3.
Manfaat adanya kewajiban adalah
untuk mengetahui siapa yang ta’at dan siapa yang membangkang.
4.
Ada beberapa perkara yang tidak
begitu saja dimaafkan. Misalnya seseorang melihat najis di bajunya akan tetapi
dia mengabaikan untuk menghilangkannya segera, kemudian dia shalat dengannya
karena lupa, maka wajib baginya mengqhada shalat tersebut. Contoh seperti itu
banyak terdapat dalam kitab-kitab fiqh.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Toleransi hukum Islam : 22
: 78, 2 : 196
2.
Manusiawi dalam penerapan hukum
: 64 : 16
الحديث الأربعون
Hadits
keempat puluh
كن في الدنيا كأنك غريب
عَنْ
ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه
وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ
عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا
أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ
الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. [رواه البخاري]
Kosa kata:
|
غريب : Orang asing
|
عابر
سبيل: Pengembara
|
|
أمسيـ(ـت) : (engkau berada) di sore hari
|
أصبحـ(ـت) : (Engkau berada) di pagi hari.
|
|
منكبـ(ي) : (kedua) pundakku
|
|
Terjemah
hadits:
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kedua pundak saya
seraya bersabda: "Hiduplah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau
pengembara", Ibnu Umar berkata: "Jika kamu berada di sore hari
jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore
hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu
untuk kematianmu." (Riwayat Bukhari).
Kandungan hadits:
1.
Bersegera
mengerjakan pekerjaan baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan
menunda-nunda karena dia tidak tahu kapan datang ajalnya.
2.
Menggunakan
berbagai kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu.
3.
Zuhud di dunia
berarti tidak bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah
ta’ala untuk kehidupan akhirat.
4.
Hati-hati dan
khawatir terhadap azab Allah adalah sikap seorang musafir yang
bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak tersesat.
5.
Waspada dari
teman yang buruk hingga tidak terhalang dari tujuannya.
6.
Pekerjaan
dunia dituntut untuk menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim
hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan akhirat.
7.
Bersungguh-sungguh
menjaga waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan
beramal shaleh.
8.
Rasulullah
memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, adalah agar dia memperhatikan apa yang
akan beliau sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan
tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu
ke dalam jiwanya. Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu
juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal
tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Hakikat
kehidupan: 3 : 185, 10
: 24
2.
Optimalisasi
setiap kesempatan: 103 : 1-3, 94 : 7.
الحديث الحادي والأربعون
Hadits keempat puluh SATU
اتباع النبي صلى الله عليه وسلم
عَنْ
أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى
يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ[حَديثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ
وَرَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الْحُجَّة بإسنادٍ صحيحٍ ]
Terjemah hadits:
Dari Abu Muhammad Abdillah bin Amr bin ‘Ash radhiallahuanhuma
dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak
beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang
aku bawa“ (Hadits hasan shahih dan kami riwayatkan dari kitab Al Hujjah
dengan sanad yang shahih).
(Hadits ini tergolong dha’if. Lihat Qawa’id Wa
Fawa’id minal Arba’in An-Nawawiyah, karangan Nazim Muhammad Sulthan hal.
355, Misykatul Mashabih takhrij Syekh Al Albani, hadits no. 167, juz 1, Jami’
Al Ulum wal Hikam oleh Ibn Rajab).
الحديث الثاني والأربعون
HADITS
KEEMPATPULUH DUA
سعة مغفرة الله تعالى
عَنْ
أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه
وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي
وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ
آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي
غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ
خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا
مَغْفِرَةً[رواه
الترمذي وقال حديث حسن صحيح ]
Kosa kata:
|
دعو(تـ)(ني) : (engkau) berdoa, memohon (kepadaku)
|
رجو(تـ)(ني) : (engkau) mengharap (kepadaku)
|
|
أبالي : (aku) pedulikan
|
قراب : Sepenuh
|
|
عنان : awan (yang dimaksud adalah banyaknya)
|
خطايا bentuk jamak dari خطأ (kesalahan)
|
|
أَتَيْـ(تَـ)(نِي) : (engkau) mendatangi-(Ku)
|
لَقِيْـ(تَـ)(نِي) : (engkau) menemui-(Ku)
|
Terjemah
Hadits:
Dari Anas Radhiallahuanhu dia berkata, Saya
mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam bersabda, Allah ta’ala
berfirman: Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon
kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, aku tidak peduli (berapapun banyaknya
dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di
langit kemudian engkau minta ampun kepadaku niscaya akan Aku ampuni engkau.
Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan
sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun
maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan “
(Riwayat
Turmuzi dan dia berkata: haditsnya hasan shahih).
Kandungan Hadist:
1.
Berdoa
diperintahkan dan dijanjikan untuk dikabul-kan.
2.
Maaf Allah dan
ampunannya lebih luas dan lebih besar dari dosa seorang hamba jika dia minta
ampun dan bertaubat.
3.
Berbaik sangka
kepada Allah ta’ala, Dialah semata Yang Maha Pengampun bagi orang yang
bertaubat dan istighfar.
4.
Tauhid adalah
pokok ampunan dan sebab satu-satunya untuk meraihnya.
5.
Membuka pintu
harapan bagi ahli maksiat untuk segera bertaubat dan menyesal betapapun banyak
dosanya.
Tema-tema hadits yang
berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:
1.
Kemurahan Allah ta’ala : 23
: 118, 6 : 133, 7 : 56
2.
Tidak putus asa untuk
bertaubat : 39 : 53, 5 :
74, 3 : 135
1. Makna kata "Hijrah"
secara bahasa: meninggalkan, sedangkan menurut syariat artinya: meninggalkan
negeri kafir menuju negeri Islam dengan maksud bisa melakukan ajaran agamanya
dengan tenang. Yang dimaksud dalam hadits ini adalah perpindahan dari Mekkah ke
Madinah sebelum Fathu Makkah (Penaklukan kota Mekkah th. 8 H).
3.Yang dimaksud dengan nasehat
kepada Allah adalah beriman kepada-Nya, tidak menyekutukan-Nya, mensucikannya
dari segala kekurangan, ta’at kepada-Nya dan tidak bermaksiat kepada-Nya.
Nasehat kepada Rasul-Nya adalah membenarkan risalahnya, beriman kepada semua
yang dibawanya, menghormatinya, melaksanakannya ajarannya dll.
Komentar
Posting Komentar